"Jalan ini bukan punya nenek moyang loe!"
Terkadang sebagai sesama pengguna jalan raya, kita tentunya sering dibuat kesal oleh pengguna lain yang berkendara seenak perutnya. Saya perhatikan, sejak motor makin merajai jalan raya, seakan-akan tidak lagi mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Padahal, tindakannya itu jelas akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Permasalahannya, komponen yang ada di jalan raya itu, bukan hanya dirinya sendiri. Saya heran, kenapa sebegitu mudahnya orang mendapatkan izin untuk mengendarai kendaraan. Perlengkapan wajibnya pun terkadang tidak sempurna, tanpa helm, tanpa kaca spion, bahkan acap kali terlihat membawa barang-barang yang sebenarnya tidak tepat untuk diangkut di atas kendaraan roda dua atau berpenumpang lebih dari dua.
Selain kendaraan roda dua, saya menilai kendaraan umum pun sudah bertindak sewenang-wenang di jalan raya. Berhenti sesuka hati, mengetem, naikkan dan turunkan penumpang di mana saja. Bahkan, ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah, sampai-sampai sudah pada taraf untuk kita memaklumi perilaku berkendara seperti itu. Untuk kendaraan umum seperti mikrolet, metromini atau kopaja, mana ada supir dan penumpang yang duduk di depan menggunakan sabuk pengaman. Hal ini sangat jelas suatu bentuk ketidakpedulian mereka akan keselamatan di jalan raya. Tidak salah, bila ada statement yang menyatakan nyawa orang Indonesia itu sangat murah.
Untuk kendaraan roda empat umum, saya menilai rata-rata sudah cukup patuh akan kebijakan yang ada, hanya saja, perlu adanya kesadaran untuk lebih meningkatkan kedisplinan dalam berkendara. Untuk kasus umum misalnya, di jalan tol, masih banyak pengguna jalan yang menggunakan bahu jalan untuk menyusul. Di jalan protokol, masih banyak pengguna yang menggunakan jalur khusus busway untuk mempersingkat waktu perjalanan. Heran juga saya sebenarnya, ini dikarenakan ketidaktauan atau pura-pura tidak tau atau tidak mau tau. Akan tetapi, saya tetap harapkan sistem punishment tetap ditegakkan oleh petugas kepada siapa saja yang melanggar.
Berkaca dari beberapa persoalan di atas, saya pikir, saya tidak salah pilih dengan mengambil sesi DSFL (http://dsflindonesia.com) pada Pesta Blogger 2009 (http://pestablogger.com) lalu. Banyak hal yang ingin saya ketahui lebih dalam mengenai mengendara yang benar. Saya baru sadar, bila terjadi kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian kita dalam mengemudi, itu tidak dikategorikan sebagai peristiwa kecelakaan, melainkan pembunuhan. Wah, ternyata tanggung jawab di balik kemudi itu sangat besar. Seperti pepatah yang pernah saya dengar, “di balik kekuatan besar, ada tanggung jawab yang besar pula”. Tetapi, kenapa ya masih ada saja orang yang menganggap remeh hal-hal sepenting ini?
Ada point yang cukup menarik dari sesi DSFL tersebut, ada yang mengatakan peran polisi sebagai lembaga yang mengizinkan orang untuk mengendara merupakan peran yang sangat krusial. Saat ini, mendapatkan SIM sangat mudah. Bahkan terlalu mudah, tanpa diuji pun bisa dapat. Ini merupakan tanggung jawab dari pihak kepolisian untuk terus mereformasi jajarannya agar prosedur kepemilikan SIM dapat dilakukan dengan lebih seksama. Saya tidak berpikir ini merupakan rantai setan yang tidak dapat diputus. Ini merupakan kesalahan di hulu alias pada proses mendapatkan SIM, sehingga berdampak di hilir alias pada kenyataan di jalanan sebenarnya. Saya berpendapat, merupakan suatu hal yang sia-sia jika polisi mengandalkan patroli jalan raya untuk mengurangi tingkat kecelakaan, namun tidak mengetahui apa penyebab utama tingginya tingkat kecelakaan.
Penyebab utama tingkat kecelakaan adalah dari sisi manusia itu sendiri. Mobil tidak dapat mencelakakan bila tidak dikendarai. Mesin merupakan benda yang tidak dapat berpikir. Kerusakan mesin pun sering kali karena mesin tidak dirawat. Pecah ban di jalan pun sering kali karena kurangnya tekanan angin. Semua itu pada dasarnya ulah manusia itu sendiri. Maka itu, pengetahuan akan mengendara secara aman perlu dimiliki. Sempat terpikir, pemerintah juga memiliki andil dalam tingginya angka kecelakaan. Seingat saya, yang dilakukan di SAMSAT adalah ujian dan bukan belajar. Seharusnya, ada lembaga-lembaga yang secara resmi mengadakan pelatihan seperti materi DSFL dan mengeluarkan semacam sertifikasi. Sertifikasi itu nantinya menjadi salah satu syarat dalam pengajuan SIM. Kemudian, 5-10 tahun sekali, sertifikasi itu perlu diperbaharui sebagai syarat pembaharuan SIM. Materi-materi DSFL sangat komprehensif dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai mengendara yang pintar dan disiplin.
Sesuai dengan judul yang saya tulis, saya tidak ingin jalanan ini hanya milik sebagian orang, yaitu milik orang-orang yang merasa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Saya punya ide yang cukup unik, seperti yang kita ketahui, sumber pendapatan negara salah salah satunya dari denda tilang. Nah, bila petugas di jalan benar-benar mematuhi aturan untuk menilang seseorang sesuai aturan, sehingga denda tilang akan seluruhnya masuk ke negara. Misal tiap hari ada 1000 motor yang ditilang dengan rata-rata Rp. 50.000, total Rp. 50 Juta. Kemudian, dari kendaraan roda 3 dan 4 (termasuk kendaraan umum), ada 500 kendaraan yang ditilang dengan rata-rata Rp. 100.000, total Rp. 50 Juta. Sehingga, Rp. 100 Juta per hari masuk ke kas negara. Per tahun, negara akan memiliki dana tambahan Rp. 30 Miliar. Ini beru asumsi minimal, karena saya juga belum tau statisk resminya. Dana sebesar Rp. 30 Miliar ini mungkin tidak seberapa, namun kita bisa bayangkan ada potensi tambahan keuangan negara untuk mereka yang senang melanggar dan meremehkan peraturan.
Dengan demikian, saya menaruh harapan. Harapan akan tertibnya jalan raya. Tidak semrawut. Tidak macet. Namun, hanya secuil harapan yang bisa saya taruh. Bukan harapan untuk memakmurkan Indonesia. Bukan harapan untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Namun, harapan agar semua masyarakat sadar bahwa jalanan milik bersama. Keamanan dan kenyamanan milik semua komponen yang membentuk jalan itu sendiri. Agar, tidak ada lagi yang teriakan lantang “Jalan ini bukan punya nenek moyang loe!”.










wah punya ane masih dalam bentuk draft … hahahaha